Wednesday, January 30, 2008

tHe PrEciOus MomEnts of My LifE


Masih teringat betapa dahsyatnya peristiwa tsunami diaceh pada bulan Desember tahun 2004 yang lalu, betapa porak-porandanya keadaan kota –kota di Nangro Aceh Darusalam, Indonesia dan juga dinegara seperti India, Thailand dan beberapa negara lainnya yang mengakibatkan banyak korban baik berupa harta benda bahkan nyawa yang membuat kaget seluruh dunia. Hati siapa yang tidak akan tergugah melihat penderitaan saudara-saudara kita disana. Seorang kriminal pun akan merasa iba, apalagi manusia biasa yang normal dan mempunyai perasaan yang mudah tersentuh. Hal itu juga menyentuh saya dan keluarga dirumah. Pada awal bulan januari 2005, saya bersama sepupu saya namanya Endah Nuri ditawari saudara kami yang seorang perawat untuk pergi keaceh. Pada saat itu tentu saja kami langsung mengiyakan dan menyanggupi tawaran itu. Menurut kami itu kesempatan yang paling baik untuk ikut membantu saudara-saudara kita disana. Pada saat itu sebenarnya keluarga agak kurang setuju dengan keputusan kami, mereka takut mendengar kota Aceh yang menurut mereka tidak aman dengan para GAM dan juga takut kalau ada tsunami susulan. Namun keputusan kami sudah bulat dan setelah mempertimbangkan berbagai alasan akhirnya kami diijinkan untuk pergi.

Kami pergi keaceh hanya berbekal beberapa lembar baju dan uang secukupnya, kami tak berpikir lain–lain kecuali satu yaitu berusaha ingin menolong orang disana, terdengar klise dan sok pahlawan, ya mungkin saja. Tapi dengan mengucap Bismillah akhirnya berangkatlah kami. Sesampai di Aceh dan turun dari pesawat kami di jemput oleh dua orang warga Aceh dan mereka bilang adalah utusan dari Muhammadiyah yang akan membawa kami kekamp pengungsian di Universitas Muhammadiyah (UNMUHA) di Banda Aceh. Sebelum ke UNMUHA kami diajak berkeliling kota Banda Aceh yang keadaanya sangat mengenaskan. Hampir seluruh bangunan roboh rata dengan tanah dan hanya tinggal puing-puingnya saja yang berserakan, kami hanya bisa diam dan berkali-kali menyebutkan nama Allah melihat bukti kekuasaan-Nya yang dalam sekejap bisa membuat kota yang begitu luas dan dipenuhi dengan bangunan itu hancur hanya dalam beberapa menit saja. Tumpukan lumpur yang menggunung menghalangi semua bagian jalan dan yang paling membuat kami sedih adalah mayat-mayat yang masih berserakan dipinggir jalan, ada yang sudah dibungkus kantong mayat dan masih banyak juga yang belum terbungkus, mungkin hal itu karena banyaknya mayat yang ada dan terbatasnya kantong mayat. Kami melihat truk-truk pengangkut mayat yang berisi tumpukan mayat-mayat yang menggunung dan para relawan yang siap mengangkat mayat-mayat yang masih ada dijalanan.

Itu adalah awal dari perjalanan kami, pada hari-hari berikutnya kami melakukan apa saja yang bisa kami lakukan untuk membantu para pengungsi, misalnya memasak untuk pengungsi, mendistribusikan obat dan pakaian bekas keseluruh kamp-kamp pengungsian. Setelah hamper satu bulan di kamp pengungsian di UNMUHA, kami dan teman-teman dari berbagai kota diIndonesia dikumpulkan dan pimpinan Muhammadiyah disana dan dari Jakarta dan bekerja sama dengan UNICEF mengumumkan akan membentuk suatu tim yang diberi nama Children Center Muhammadiyah-Unicef yang terbagi kedalam masing-masing tim terdiri dari 20 orang dan akan ditempatkan di tujuh kota diseluruh Nangroe Aceh Darussalam. Fokus kami adalah membantu proses pemulihan psikologis anak-anak setelah terjadi bencana dan juga pendidikan anak yang pada saat itu terabaikan dan juga gizi anak yang buruk. Seluruh keperluan kami pribadi dan untuk memberi bantuan didanai oleh Unicef Pada saat itu saya dan saudara saya tergabung kedalam tim yang ditempatkan di Pidie Aceh Utara. Disinilah saya mendapat berbagai macam pengalaman baik ataupun buruk, bertemu dengan orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya namun harus berusaha dekat dan menjadi perantara untuk menolong mereka. Banyak orang-orang yang senang dengan kedatangan kami banyak pula yang pada awalnya curiga dan tidak suka dengan kami. Namun hari-hari berikutnya kami bekerja sebisa kami untuk membuat perubahan dikamp pengungsian yang keadaannya membuat hati miris apalagi ketika melihat anak-anak setiap hari menghabiskan waktu tanpa ada kegiatan yang bararti. Kami buat kegiatan sekolah pengganti yang teratur dan juga kegiatan rekreasional yang membuat anak –anak bisa ceria lagi, dan kami memberikan bantuan gizi berupa makan-makanan yang bergizi bagi anak-anak tersebut. Tujuan utama kami adalah mengembalikan suasana atau keadaan anak seperti keadaan pada saat sebelum tsunami terjadi dan tentu saja dengan berbagai tambahan yang bermanfaat bagi mereka. Akhirnya semua masyarakat menerima kami dengan baik dan malah sangat mendukung kegiatan kami. Alhamdulillah.

Selama hampir setahun kami berusaha melakukan berbagai upaya untuk menolong anak-anak dan orang tua mereka dari hal kecil seperti menolong membuatkan WC umum sampai membantu mengusahakan kelancaran proses relokasi dari tempat tinggal tenda ketempat tinggal yang lebih layak. Tentu saja hal itu tidak mudah dan memerlukan proses yang panjang. Dengan bersabar kami berusaha terus mengupayakannya dan alhamdulillah berjalan dengan baik dan lancar. Sedikit-sedikit kami melihat perubahan yang menggembirakan.

Pada tahun kedua saya dimutasi ke Meulaboh, kota dipantai Barat Aceh yang jaraknya 8 jam perjalanan dari Pidie melintasi daerah yang sangat asing bagi saya karena tentu saja baru pertama kali dan juga melewati gunung-gunung yang jalannya sangat curam dan sempit. Disana saya digabungkan dengan tim yang tugasnya hampir sama dengan tim sebelumnya. Hal itu terus berlangsung sampai bulan September 2006 ketika saya memutuskan untuk pulang dan malanjutkan kuliah saya yang tertunda.

Terasa sedih meninggalkan semua yang telah dijalani bersama, terlalu banyak kejadian dan peristiwa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena hanya hati yang bisa merasa, ada banyak hal yang bisa membuat kami menangis dan tertawa bersama. Kenangan bersama anak-anak adalah kenangan yang paling berkesan dan yang paling membuat saya sedih ketika harus pergi dan meninggalkan mereka. Semoga suatu saat nanti Allah memberikan saya kesempatan untuk bisa kembali dan berkumpul bersama mereka lagi.

Selama hampir dua tahun itulah saya merasakan berbagai macam pengalaman yang membuat saya merasa lebih dewasa dan bisa bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri maupun orang lain. Membuat saya lebih peka terhadap kebutuhan orang lain daripada kebutuhan saya sendiri. Hal ini merupakan berkah terbesar bagi saya. Walaupun pada kenyataannya masih banyak yang harus saya pelajari, karena hidup terus berjalan dan kita semua memerlukan banyak ilmu pengetahuan untuk bisa melewatinya.

Dari peristiwa dan kejadian yang saya alami saya sangat percaya bahwa Allah selalu memberikan pelajaran dan manfaat yang sangat berharga didalam setiap cobaan atau bencana yang Dia timpakan kepada manusia, terutama bagi orang-orang yang bepikir atau berilmu dan orang tersebut mau menggunakan pikiran dan ilmunya sesuai dengan jalan dan ketentuan Allah Swt.

Wallahua’lam Bish Shawab

Thanks to Allah the Almighty in the first place, thanks to the marvelous children who touch me with their love, no one can reminds me like you all do, thanks to my little sisters and brothers, who take me as I am, I’ll always miss you, and finally thanks to all of my friends who share those beautiful moments with me. I love you guys.

No comments: